PRUDENTIAL

Bapak / Ibu Yth : izinkan kami menawarkan kesempatan yang sangat menjanjikan, yakni MENABUNG sekaligus ber INVESTASI dengan JAMINAN bersama kami dibawah bendera dan pelayanan terbaik dari PRUDENTIAL L. A...cp YULMEDIA SH. 081317035749

Selasa, 12 Januari 2010


Malaysia dan Indonesia harus selalu bergandengan tangan

Jakarta – Cendekiawan Muslim Malaysia, Prof. Dr. Dt Sidek Baba mengatakan bahwa Malaysia dan Indonesia, dalam keadaan bagaimanapun harus berdiri bersama, bergandengan tangan terutama di pentas dunia karena kedua Negara disamping mewakili kepentingan bangsanya masing-masing, juga merupakan wakil dunia Islam, yang sangat dibutuhkan perannya.

Mantan orang nomor dua di Universitas Islam Antar Bangsa Malaysia (UIA) menilai,"Kedua negara yang ditakdirkan oleh Tuhan sebagai bangsa serumpun ini agar berpikir secara arif dan dalam konteks yang lebih positif untuk kepentingan masa depan yang lebih besar," katanya saat menerima Yadmi usai menjadi pembicara di sebuah hotel ternama dibilangan Jakarta Selatan, Minggu (10/01).

Tokoh yang juga merupakan anggota Dewan Pengawas Yayasan Dakwah Malaysia Indonesia (YADMI) ini melanjutkan, saat ini Malaysia bukan saja membantu menyediakan pekerjaan kepada lebih dari sejuta rakyat Indonesia yang mencari nafkah di Malaysia, tapi juga menjadi tempat favorit bagi para pelajar Indonesia untuk melanjutkan studinya di berbagai perguruantinggi yang ada di Malaysia.

Bahkan, tambahnya, Malaysia juga memperhatikan pendidikan anak-anak para TKI dengan mendirikan sekolah bagi mereka, dan Alhamdulillah untuk ini, Indonenesia telah meyediakan dan mengirim 500 sampai 1000 guru sebagai pengajar disana.

Untuk menjaga, memelihara, dan meningkatkan kemesraan hubungan antara Malaysia dan Indonesia, tokoh yang selalu ramah ini berharap agar media, khususnya di Indonesia untuk menulis laporan yang adil dan isu-isu positif mengenai kedua negara.yul

Perkokoh hubungan serumpun yang lebih sehat, produktif, dan konstruktif.

Jakarta - Indonesia dan Malaysia adalah negeri serantau, jiran terdekat, tetapi sering diliputi kesalahpahaman. “kedua bangsa adalah negeri serumpun yang memiliki pertalian kultural dan historis yang sangat erat.” Kata Pakar sekaligus Pengamat hubungan Malaysia dan Indonesia, Dr. Yusherman, dikantornya dikawasan Cempaka Putih Jakarta, Kamis (7/01)

Karena alasan pertalian itu, lanjut Yusherman, para pendiri dua negeri ini, pernah mengidam-idamkan pendirian Melayu Raya (Greater Indonesia) yang mencakup penyatuan tanah Melayu dan Indonesia. Para perancang gagasan ini adalah Soekarno dan Hatta dari Indonesia dan Burhanuddin al-Helmy dan Ibrahim Yaacob dari Malaysia.

Meski tidak terwujud, namun keduanya tetap tidak mampu untuk menyembunyikan keinginan yang tak henti-henti mendambakan berlangsungnya jalinan hubungan bilateral kedua negara yang lebih sehat, produktif, dan konstruktif.

Yusherman yang juga Rektor Universiatas surapati ini menambahkan, “kedua bangsa memiliki sejarah perjalanan hubungan diplomatik yang panjang, dengan segenap pasang surutnya, termasuk periode konfrontasi pada era 1963-1966.” Tambahnya.

Menurut Yuserman, hubungan Indonesia-Malaysia sering diganggu dengan isu seputar perlakuan buruk terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia, isu penangkapan nelayan RI di Selat Malaka oleh kapal-kapal patroli Malaysia akibat ketidakjelasan batas ZEE kedua negara, isu asap yang dikirim Indonesia ke Malaysia yang hampir terjadi setiap tahun, dan isu perdagangan manusia serta pembalakan liar yang diduga merugikan Indonesia dan menguntungkan Malaysia.

Untuk menjaga dan meningkatkan hubungan bilateral kedua negara, isu-isu ini harus disikapi secara arif dan bijaksana, tanpa harus mengorbankan kepentingan nasional masing-masing negara. “Kita berharap beberapa aspek dalam hubungan Indonesia-Malaysia ditingkatkan lagi, baik hubungan perniagaan, pendidikan, pariwisata maupun ketenagakerjaan.” Paparnya.yul