PRUDENTIAL

Bapak / Ibu Yth : izinkan kami menawarkan kesempatan yang sangat menjanjikan, yakni MENABUNG sekaligus ber INVESTASI dengan JAMINAN bersama kami dibawah bendera dan pelayanan terbaik dari PRUDENTIAL L. A...cp YULMEDIA SH. 081317035749

Rabu, 18 Januari 2012

KEBAHAGIAAN ADALAH PILIHAN

Suatu ketika istri John Maxwell seorang pembicara motivator terkenal, Margaret, sedang menjadi pembicara di salah satu sesi seminar tentang "kebahagiaan". Maxwell sang suami duduk di bangku paling depan dan mendengarkan. Di akhir sesi, semua pengunjung bertepuk tangan dan tiba sesi tanya jawab. Setelah beberapa pertanyaan, seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya. "Mrs. Margaret, apakah suami Anda membuat Anda bahagia?" Seluruh ruangan langsung terdiam. Satu pertanyaan yang bagus. Margaret tampak berpikir beberapa saat dan kemudian menjawab, "Tidak." Seluruh ruangan terkejut. "Tidak," katanya sekali lagi, "John Maxwell tidak bisa membuatku bahagia." Seisi ruangan langsung menoleh ke arah Maxwell. Maxwell juga menoleh kesana-kemari mencari pintu keluar. Rasanya ia ingin lari dari ruangan itu. Margaret kemudian melanjutkan, "John Maxwell adalah seorang suami yang sangat baik. Ia tidak pernah berjudi, mabuk-mabukan maupun main serong. Ia setia, selalu memenuhi kebutuhan saya, baik jasmani maupun rohani. Tapi, tetap dia tidak bisa membuat saya bahagia." Tiba-tiba ada suara bertanya, "Mengapa?" Margaret kemudian menjawab, "Karena tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaan saya selain diri saya sendiri." Margaret dengan jelas mengatakan tidak ada orang lain yang bisa membuat Anda bahagia. Baik itu pasangan hidup Anda, sahabat Anda, uang Anda, hobi Anda, dll. Semua itu tidak bisa membuat Anda bahagia Karena yang bisa membuat diri Anda bahagia adalah diri Anda sendiri. Anda bertanggung jawab atas diri Anda sendiri. Kalau Anda selalu merasa berkecukupan, tidak pernah punya perasaan minder, selalu percaya diri, Anda tidak akan merasa sedih. Sesungguhnya pola pikir kita yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan faktor luar. Bahagia atau tidaknya hidup Anda bukan ditentukan oleh seberapa kaya diri Anda, seberapa cantik istri Anda atau gagah suami Anda, atau sesukses apa hidup Anda. Bahagia adalah pilihan Anda sendiri.

Kamis, 12 Januari 2012

PRIBADI YANG KEBERHASILANNYA TAK BISA DITAHAN

Sahabatku yang rindu mendapatkan jaminan mengenai keberhasilan
hidupnya, katakanlah ini sebagai kalimatmu sendiri …

Tuhanku Yang Maha Melapangkan,

Engkau telah menetapkan bahwa jika aku berusaha di dalam keimananku
kepadaMu, untuk menjadi penentu keberhasilanku sendiri, maka nasibku
adalah SEBAGAIMANA yang aku upayakan.

Maka aku mohon Engkau merestui upayaku mulai hari ini untuk dengan
setia berlaku dalam

TIGA KUALITAS PRIBADI

yang menjadikan keberhasilanku tidak bisa ditahan, yaitu:

FOKUS

Aku akan berfokus pada satu hal atau kemampuan yang akan menjadikanku
pribadi yang bernilai.

OBSESI

Aku akan menenggelamkan diri ke dalam ketertarikan yang hebat untuk
menjadi ahli dalam bidangku.

DISIPLIN

Aku akan berlaku setia kepada keteraturan untuk melakukan yang
membesarkan dan mencemerlangkanku.

Semoga dengannya, Engkau akan menjadikan aku pribadi yang kedamaian
hatinya, yang kesehatannya, yang kesejahteraannya, yang keluasan
pengaruhnya, dan yang peningkatan nilainya bagi kebaikan hidup
sesamanya - tak dapat diganggu dan ditahan oleh apa dan siapa pun.

Aamiin

-----------------

Marilah kita mengupayakan sebanyak-banyaknya cara agar usaha dan doa
kita terjawab dengan baik dan lebih segera.

"Semakin besar jumlah jiwa yang meminta, semakin baik bagi yang meminta."

Jika karena kesibukan, Anda tidak sempat menuliskan 'Aamin' atau pesan
lain, mohon Anda 'Like' sebagai tanda kesertaan Anda dalam doa kita di
pagi ini.

Terima kasih dan salam super,

Mario Teguh - From San Francisco with love
MARIO TEGUH

Orang yang sejatinya paling kaya, adalah dia yang kebahagiaannya berasal dari hal-hal yang tidak harus dibeli.

Seperti,

Terbitnya matahari, udara pagi yang segar, nasihat penuh kasih dari orang tua, senyum dari belahan jiwa, tawa ceria anak-anak, senyum dan keramahan yang dihadiahkan kepada keluarga dan sahabat, kesempatan untuk membantu orang lain, dan jabat tangan yang hangat dari rekan sekerja.

Dan orang yang sejatinya paling miskin, adalah dia yang harus membeli pertemanan, membayar untuk menjabat, menyuap untuk menutupi dosa, pamer harta dan kekuasaan untuk mengundang cinta, menyebar uang untuk mendapatkan dukungan, menggelontor uang untuk menjadi popular, dan membeli obat yang mahal untuk merasa tenang dan memaksa diri untuk tidur.

Nikmat Tuhan adalah kesederhanaan yang tidak perlu dibeli, dan jika harus dibeli - tidak akan dapat dibayar dengan uang dan harta apa pun.

Maka sungguh merugi orang yang menistakan nikmat Tuhan.

Dan sungguh kaya orang yang hatinya dipenuhi dengan kesyukuran atas keindahan yang berada di dalam kesederhanaan.

Semua orang yang berkharisma dalam kedamaian yang anggun, selalu bersahaja dan sederhana.

Mario Teguh - Loving you all as always
MARIO TEGUH;
TIDAK MENGGIGIT TANGAN YANG MEMBERI MAKAN


Sahabat saya yang baik hatinya,

Sering tanpa kita sadari, kita berlaku agak kasar dan bereaksi agak kejam kepada orang yang baik kepada kita, karena ketersinggungan atau karena kita menganggap kebaikan yang mereka lakukan adalah kewajiban mereka.

Sesuatu yang telah kita terima secara teratur, walau bukan hak kita, akan kita tuntut sebagai hak.

Dan itulah sikap kita kepada mereka yang membantu kita. Kita berlaku seperti anak kecil yang menggigit tangan yang menyuapi makanan.

Sering tanpa kita sadari, kita melukai hati orang yang mengasihi kita, karena kita menganggap kebaikan hati mereka adalah kewajiban yang menguntungkan mereka.

Kita sering menganggap diri ini demikian penting, sehingga mengabaikan kebutuhan orang lain untuk dikasihi, dihargai bantuannya, dan untuk menerima sedikit rasa terima kasih.

Maka, katakanlah ini sebagai kalimat Anda sendiri …

Tuhanku Yang Maha Pemaaf,

Maafkanlah aku yang sering lalai menghargai kebaikan orang tua, saudara, sahabat, atasan, dan mereka yang tak kukenal - tapi yang ikhlas melakukan kebaikan kepadaku sebagai sesama yang mereka cintai.

Hari ini, tenagailah kesungguhanku untuk menjadi pribadi yang mensyukuri kebaikan orang lain kepadaku, dan mampukanlah aku melakukan kebaikan yang sebanding kepada mereka, agar aku tidak hanya menjadi penerima bantuan yang bersungut-sungut.

Tuhan, hapuslah sifat-sifat buruk dari diriku, agar aku tak menjadi orang yang menggigit tangan yang memberiku makan.

Jadikanlah aku jiwa yang mensyukuri kebaikan orang lain, dan mampu mengembalikannya sebagai tanda kebaikan hatiku.

Aamiin

-----------------

"Semakin besar jumlah jiwa yang meminta, semakin baik kesempatan permintaan itu dikabulkan."

Jika karena kesibukan, Anda tidak sempat menuliskan 'Aamin' atau pesan lain, mohon Anda 'Like' sebagai tanda kesertaan Anda dalam doa kita di pagi ini.

Terima kasih dan salam super,

Mario Teguh - Loving you all as always.
Agama dan Kekerasan
Oleh Jalaluddin Rakhmat

"Jika aku bisa mengayunkan tongkat sihirku dan harus memilih apakah melenyapkan perkosaan atau agama, aku tidak akan ragu-ragu lagi untuk melenyapkan agama," tulis Sam Harris, yang bersama Daniel Dennett dan Richard Dawkins dikenal sebagai the Unholy Trinity of Atheism.

"Agama sudah semestinya ditinggalkan manusia bukan karena alasan teologis, tetapi -masih kata Harris dalam The End of Faith: Religion: Terror and the Future of Reason - "karena agama telah menjadi sumber kekerasan sekarang ini dan pada setiap zaman di masa yang lalu".

Romo Magnis pernah mengatakan kepadaku bahwa orang menjadi ateis lebih banyak bukan karena pemikiran filsafat atau sains. Mereka menjadi ateis karena tindakan kekerasan yang dilakukan oleh para pengikut agama. Mereka melihat kontradiksi antara apa yang dikhotbahkan dengan apa yang dilakukan.

Alkisah, ada seorang Inggris yang sangat religius. Kalau bukan orang yang tekun ibadat, ia orang yang rajin 'mencoba' berbagai agama. Ia dibesarkan sebagai Anglikan, dididik sebagai Methodist, berpindah kepada Greek Orthodoxy karena perkawinan, dan dikawinkan kembali oleh seorang rabbi Yahudi.

Sebagai wartawan, ia mengembara secara geografis dan intelektual. Ia mengumpulkan setumpuk data tentang keterlibatan semua agama dalam berbagai peperangan dalam sejarah. Hasil pengembaraan 'spiritualnya' membuahkan buku: god (dengan huruf kecil) is not Great. Ia menuliskan namanya dengan setiap huruf pertamanya huruf besar: Christopher Hitchens. Ia membagi bab-bab dalam bukunya berdasarkan kontribusi setiap agama pada pembunuhan, peperangan, dan kekejaman. Seumur hidupnya, ia menjadi pendakwah ateis yang efektif, terutama terhadap orang-orang yang menjadi korban kekejaman agama.

Setelah Hitchens, Dan Baker menulis buku dengan judul yang ditulis dengan huruf kecil dan subjudul dengan huruf besar semua: godless, How an Evangelical Preacher Became One of America’s Leading Atheists. Jawab: Karena tindakan kekerasan umat beragama.

Ayaan Hirsi Ali untuk Islam sama dengan Hitch dan Dan Baker untuk Kristen. Ia lahir di Somalia, dari keluarga bangsawan Muslim. Waktu remaja, ia masuk sekolah muslimah yang berbahasa Inggris dan didanai Saudi. Guru-gurunya keluaran Saudi. Dengan semangat ia berpindah dari mazhab Syafii yang toleran kepada mazhab baru yang sangat keras. Hidup dengan aliran keras ini tidak membahagiakannya. Ia menyaksikan berbagai tindakan kekerasan, terutama kepada perempuan, atas nama agama.

Ia mengungsi ke negeri Belanda. Di sini, ia mendapat perlakuan yang tidak enak dari sesama Muslim. Setelah kecewa dengan peristiwa 11 September, setelah membaca Manifesto Atheis dari Herman Philipse, secara resmi ia meninggalkan Islam dan menyatakan diri Atheis.

Pada 2004, Ayaan, yang kini menjadi anggota Parlemen Belanda, menulis naskah dan menyediakan suara untuk film pendek Submission. Seorang aktris, berpakaian chador yang tembus pandang, mengisahkan penderitaan empat tokoh perempuan yang ditindas atas nama Islam.

Melalui chador yang transparan, penonton melihat tubuh telanjang yang bertuliskan ayat-ayat Al-Quran. Film ini tentu saja menimbulkan kemarahan hatta di negeri Belanda sekalipun. Produsernya, Theo van Gogh, dibunuh di jalan di Amsterdam. Di atas jenazahnya diselipkan surat dan pisau yang berisi ancaman kepada Ayaan. Ia ditunjuk Time sebagai 100 most influential people in the world. "This woman is a major hero of our time," kata Richard Dawkins, anggota trinitas Atheis. Hirsi Ali menjadi dewi ateis sedunia.

Walhasil, kenapa orang menjadi atheis? Karena mereka menyaksikan atau mengalami sendiri tindakan kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Agamanya sendiri sebetulnya hanya menjadi kambing hitam. Bisa saja orang menyulut konflik karena motif-motif sekular –misalnya, ekonomi, politik, rasialisme - tetapi mereka menyelimuti nya dengan jubah agama.

Jika kita belajar sejarah, kita akan segera tahu bahwa konflik Palestina adalah konflik etnis (Yahudi yang terdiri dari 22,9 persen ateis, 21 persen sekular dan sisanya menganut agama Yahudi dan etnis Arab yang terdiri dari Islam dan Kristen); bahwa konflik di Irlandia Utara disebabkan karena masalah etnis-politis, setelah Inggris mendirikan Perkebunan Ulster tahun 1609; bahwa konflik bersenjata antara Pakistan dan India tentang Kashmir ditimbulkan oleh kebijakan pemerintah kolonial Inggris, dan bukan karena anjuran Kitab Suci; bahwa perang Irak dan Iran dimulai dari perebutan wilayah, bukan karena perbedaan mazhab (terbukti setelah perang diketahui bahwa Syiah juga mayoritas di Irak).

Bagaimana dengan konflik Sunnah dan Syiah di berbagai tempat di Jawa Timur, termasuk Sampang? "Bukan karena perbedaan pendapat, tetapi karena perbedaan pendapatan," kata petinggi NU masih dari daerah yang sama. Rois dan Tajul, kakak-beradik, dilantik sebagai pengurus Ijabi (Ikatan Jamaah Ahlil Bait Indonesia) pada 2007. Pada 2009, mereka terlibat konflik keluarga, antara lain karena masalah santri perempuan di pesantren Tajul.

Karena persoalan pendapatan, Rois meninggalkan paham Syiah dan beralih pendapat. Katanya, "Saya kembali ke Nahdhiyin, karena banyaknya penyimpangan dalam ajaran Syiah". Pada pengujung 2011, Rois –menurut pengakuannya sendiri- membiarkan orang-orang yang sependapat dengan dia menghancurkan teritori dan massa pengikut saudaranya. Media melaporkan, "Roisul Hukama memimpin massa Ahli Sunnah untuk menyerang perkampungan dan pesantren Tajul Muluk, yang berpaham Syiah". Para tokoh Islam, dengan pendapatan yang lebih besar, kemudian menabuh genderang perang. Atas nama agama!

Siapakah yang beruntung? Tidak satu pihak pun. Tidak Rois dan tidak Tajul. Siapakah yang menang? Kaum ateis. Mereka punya amunisi baru. Mereka akan menisbahkan tindakan kekerasan dan kekejian kepada agama. Tidak jadi soal apakah penyebab yang sebenarnya itu berasal dari masalah ekonomis, politis, ideologis, ethnis, atau sekedar pertikaian di antara keluarga miskin di kampung yang miskin!

JALALUDDIN RAKHMAT
adalah Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia
http://www.detiknews.com/read/2012/01/04/083526/1806073/103/agama-dan-kekerasan