JUBAH
Rozya Ilif
KETIKA kehormatan bersumber dari atribut, maka distansi antara kemuliaaan dengan kehinaan, hanya terpisahkan oleh selapis tabir yang teramat tipis. Kehormatan diri, hanya berjarak selangkah dengan kenistaan.
Abi Ishak melepaskan rangkaian bersin yang keras itu dengan tubuh tergoncang. Lalu tanpa sadar kemudian, jubah jabatan baru yang melekat indah di tubuhnya dijadikan pengusap kotoran yang melekat di hidung dan mulutnya.
Sekejap ruang megah yang menjadi tempat acara pelantikan dua pejabat penting di Surraman Mediterian itu berubah sepi. Ratusan pasang mata memandang tegang kepada Abi Ishak yang tegak berdiri di samping Abu Bakar Dalap al-Sybli, pejabat lain yang dilantik bersamanya hari itu. Mereka menanti apa yang akan dilakukan Khalifah yang sedang menatap Abi Ishak dengan geram.
Mengapa jubah jabatan yang megah itu harus diperlakukan sehina tisu di tempat pembuangan? Bukankah seseorang yang sekerdil apapun, segera terangkat naik, saat menyandang seperangkat pakaian kebesaran? Kebodohan apa yang menggerakan seseorang untuk mendustakan pengaruh sepotong jubah yang sarat dengan kilau kemegahan? “Tanggalkan pakaian itu, dan keluarlah dari Istana ini,” perintah Sang Khalifah kemudian.
Peristiwa di Khurrasan Irak tahun 891 itu, menjadi titik awal dari perubahan drastis jalan hidup salah seorang pejabat tinggi pemerintah yang kemudian menjadi sufi besar dari Surraman. Dan tokoh itu bukan Abi Ishak Sang Pejabat yang dipecat, tetapi rekannya yang juga ikut naik pangkat, Abu Bakar Dalap Ibnu Hajar al-Sybli.
“Aku tak ingin memindahkan kehormatan diriku kepada hanya sepotong jubah jabatan,” kata Si Pendahaga Ilmu Tauhid ini, setelah mundur dari pemerintahan, dan mulai memasuki dunia tasawuf, dengan bergabung ke kelompok spiritual pimpinan Khair as-Nassaj di Bagdad.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar