Kamis, 04 Maret 2010
Riskan menyerahkan urusan pangan ke swasta
Jakarta - “Terlalu riskan jika Indonesia menyerahkan urusan pangan ke swasta. Tidak akan ada kemandirian pangan jika semua hal yang terkait dengan pangan, dari lahan, benih, hingga pemasaran hasil dikuasai swasta.” Ujar Witoro, ketua Pokja beras/pangan Aliansi Untuk Desa Sejahtera ( ADS) saat memberikan pandangan terkait masalah ketahanan pangan di Jakarta, Kamis (4/3).
Menurut Witoro, sebaiknya investasi untuk pembangunan pertanian 10 tahun ke depan lebih baik ditujukan bagi petani kecil, “Sayang sekali jika krisis pangan yang terjadi di dunia dijawab oleh Indonesia dengan cara membuka investasi pangan bagi swasta.”tegas Witoro.
Sementara itu Edi Sutrisno, dari kelompok kerja Sawit ADS menilai bahwa, pembukaan lahan secara besar-besaran juga berdampak luas, bukan hanya dari sisi lingkungan tetapi juga sosial dan ekonomi. Perluasan kebun sawit secara masif, ikut melahirkan berbagai konflik dari agraria, dan berpotensi menciptakan kantong-kantong kemiskinan baru di sekitar kebun.
Hati-hati jika menganggap food estate, seperti juga kelapa sawit sebagai sumber biofuel sebagai win-win solution dalam memecahkan masalah pangan dan energi saat ini. ”Perlu sebuah pemikiran matang dan siapa nantinya yang akan mendapat manfaat lebih besar.” papar Edi Sutrisno.
Hal Senada juga disampaikan Tejo Wahyu Jatmiko, Koordinator Nasional untuk Desa Sejahtera. “Negara seharusnya mengupayakan ketahanan pangan, bukan menyerahkannya ketangan swasta, yang orientasi jelas mengejar keuntungan semata. Demikian tuntutan Aliansi untuk Desa Sejahtera melihat rencana negara memberikan fasilitas yang sangat besar kepada swasta agar segera melakukan investasi di Merauke Integrated Food Energy Estate (Mifee).” Tegas Tejo. yul.
Jakarta - “Terlalu riskan jika Indonesia menyerahkan urusan pangan ke swasta. Tidak akan ada kemandirian pangan jika semua hal yang terkait dengan pangan, dari lahan, benih, hingga pemasaran hasil dikuasai swasta.” Ujar Witoro, ketua Pokja beras/pangan Aliansi Untuk Desa Sejahtera ( ADS) saat memberikan pandangan terkait masalah ketahanan pangan di Jakarta, Kamis (4/3).
Menurut Witoro, sebaiknya investasi untuk pembangunan pertanian 10 tahun ke depan lebih baik ditujukan bagi petani kecil, “Sayang sekali jika krisis pangan yang terjadi di dunia dijawab oleh Indonesia dengan cara membuka investasi pangan bagi swasta.”tegas Witoro.
Sementara itu Edi Sutrisno, dari kelompok kerja Sawit ADS menilai bahwa, pembukaan lahan secara besar-besaran juga berdampak luas, bukan hanya dari sisi lingkungan tetapi juga sosial dan ekonomi. Perluasan kebun sawit secara masif, ikut melahirkan berbagai konflik dari agraria, dan berpotensi menciptakan kantong-kantong kemiskinan baru di sekitar kebun.
Hati-hati jika menganggap food estate, seperti juga kelapa sawit sebagai sumber biofuel sebagai win-win solution dalam memecahkan masalah pangan dan energi saat ini. ”Perlu sebuah pemikiran matang dan siapa nantinya yang akan mendapat manfaat lebih besar.” papar Edi Sutrisno.
Hal Senada juga disampaikan Tejo Wahyu Jatmiko, Koordinator Nasional untuk Desa Sejahtera. “Negara seharusnya mengupayakan ketahanan pangan, bukan menyerahkannya ketangan swasta, yang orientasi jelas mengejar keuntungan semata. Demikian tuntutan Aliansi untuk Desa Sejahtera melihat rencana negara memberikan fasilitas yang sangat besar kepada swasta agar segera melakukan investasi di Merauke Integrated Food Energy Estate (Mifee).” Tegas Tejo. yul.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar