Haji Muklis : Allah lah yang membuat aku seperti sekarang ini
Putus sekolah belum tentu tidak sukses dalam menjalani kehidupan di kemudian hari. “Di sekolah saya enggak begitu pintar, yang jelas persoalan ekonomi memaksa saya untuk hengkang dari tempat saya belajar yang bernama sekolah,” kenang H. Muklis Syabirin, Owner Restoran Padang TUJUH BELAS PROPINSI tentang masa kecilnya.
Awalnya, pria yang dulu saat dikampung lebih dikenal dengan nama Kulih ini menjadi penjaja (penjual keliling), macam-macam barang: kancing baju, sisir, barang elektronik dan lain sebagainya. Setiap hari melakukan perjalanan dari Pasar ke Pasar di seputar Jakarta. Itulah rutinitasnya, ia naik bis kota, kereta api, oplet atau ojek ke tempat berjualan. Pekerjaan seperti itu membuatnya hapal seluk beluk Jakarta.
Ia juga pernah jadi karyawan di beberapa restoran/ rumah makan, namun disini ia sering mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan dari majikan, dan perlakuan seperti itu memaksanya berpikir untuk hijrah kerantau ketempat yang lebih jauh lagi.
“Saya sempat putus asa,” kata bapak dua anak ini. “Ketika dirumah makan tempat saya bekerja terjadi penurunan omset yang cukup berarti. Namun, peristiwa itu dianggab bukan sebagai sepinya pengunjung restoran, melainkan ada karyawan yang mencuri uang di kotak kasir. Yang di tuduh sebagai pencurinya saya. Inilah fitnah yang amat menyakitkan,” tuturnya.
Saat itu sambil tetap menahan kegalauan hati, Muklis putra kelahiran Nagari Saniangbaka Solok, Sumaterabarat ini bertekad untuk melangkahkan kakinya. Hari itu juga ia mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan kota Jakarta. Bali adalah kota berikutnya yang ia datangi. Namun, di pulau dewata yang terkenal sangat indah dan berbudaya itu, ternyata belum juga dapat mengobati duka lara yang saat itu tengah menyertainya.
Sampai pada suatu ketika, di era tahun Sembilan puluhan, ia terdampar di Makasar setelah sebelumnya sempat merantau ke Menado serta kota-kota lainya di pulau Sulawesi, dan juga beberapa kota di kawasan Indonesia tengah lainya. Makasar adalah propinsi yang ke Tujuh belas ia datangi dan inilah yang kemudian menjadi inspirasi lahirnya Restoran Tujuh Belas Propinsi di kemudian hari.
Dari berbagai petualangan yang ia jalani , menjadi kuli bangunan, penjaga rumah, tukang semir sepatu, tukang cuci mobil, pernah ia lakoni. “Semuanya saya jalani demi sesuap nasi dan kelangsungan hidup. Apa saja saya lakukan yang penting halal dan tidak dilarang oleh agama,” katanya dengan mata berkaca-kaca sambil mengingat penderitan dan perjalanan hidup yang pernah dilaluinya.
“Dibalik kesulitan itu pasti ada kemudahan. Itulah jaminan Tuhan,” kata Muklis mengutip salah satu ayat yang terdapat dalam Al-Qur’an. Ayat itulah yang kemudian menjadi spirit sehinga membuat saya bangkit dari belenggu kehinaan, tuturnya. “Jika tuhan sudah berkehendak apapun bisa terjadi, begitu pun menyangkut diri saya, dimataNYA dan kekuasaNYA amatlah mudah,” ujar Muklis dengan mantap.
Sewaktu membuka restoran, rumah makan di Makasar, pria yang bertepatan hari lahirnya dengan perayaan hari pahlawan 10 November 1969 ini, memberi nama Rumah Makan miliknya dengan nama Tujuh Belas Propinsi. Nama ini terinspirasi dari perjalananya setelah merantau dan menempuh 17 daerah tingakat satu dari dua puluh tujuh propinsi yang ada di Indonesia kala itu.
Bagi Muklis, selain mudah diingat, angka 17 adalah angka keberuntungannya. Hingga tahun 2010 ini berkat doa dan kerja yang tak kenal lelah, usaha yang telah dirintisnya dari nol tersebut terus bertambah maju, “Alhamdulillah, Allah mengkaruniai kami rezeki sehingga sekarang di kota Makasar sudah ada 7 restoran, rumah makan kami,” katanya merendah.
Walau sudah sukses, H. Muklis tetap merasa sebagai rakyat kecil. Menurut Muklis, itu karena ia terbiasa menjalani hidup penuh asam garam, pahit getir sejak kecil. “Apapun yang ada sekarang, semuanya kepunyaan, dan milik Allah. Jangan pernah merasa sombong dengan kelebihan yang kita punya. Sadarilah bahwa itu adalah titipan dari Yang Maha Adidaya,” katanya dengan penuh nuansa religius.
Ia mengakui peran agama tak bisa lepas dari kebangkitan kehidupnya. “Agamalah yang membimbing saya hingga menjadi seperti sekarang ini,” ujar Muklis. “Islam adalah agama yang diturunkan Allah swt. kepada manusia untuk menata seluruh dimensi kehidupan. Setiap ajaran yang digariskan agama ini tidak ada yang berseberangan dengan fitrah manusia. Unsur hati, akal, dan jasad yang terdapat dalam diri manusia senantiasa mendapatkan “khithab ilahi” (arahan Allah) secara proporsional.”
"Rasulullah SAW bersabda,’ lanjutnya. “Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rezki sebagaimana rezki burung-burung. Mereka berangkat pagi dengan perut lapar, dan pulang petang hari dalam keadaan kenyang," kata pria yang dikenal ramah dan dermawan dikalangan orang-orang yang pernah berkenalan denganya, sembari mengutip salah satu hadits Rasulullah Saw.
Berdoa kepada Yang maha Kuasa, berkeinginan keras dan tekun, pantang menyerah, serta fokus menekuni satu bidang usaha merupakan kiat sukses H. Muklis. Namun, ia juga memberikan resep sukses yang ia namai ISTRI ( Ingin Sukses Timbalah Restu Ibu dan Istri). Sedangkan untuk mempertahankan usahanya ia memakai prinsip HIJAU ( Hidup Jangan Ada Utang). yulia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar