PRUDENTIAL

Bapak / Ibu Yth : izinkan kami menawarkan kesempatan yang sangat menjanjikan, yakni MENABUNG sekaligus ber INVESTASI dengan JAMINAN bersama kami dibawah bendera dan pelayanan terbaik dari PRUDENTIAL L. A...cp YULMEDIA SH. 081317035749

Rabu, 23 Desember 2009


HIJRAH DARI KEGELAPAN MENUJU HIDAYAH

Menyambut Tahun Baru Islam, 1 Muharam, sebagian masyarakat menggantinya dengan Perayaan Tahun Baru Jawa 1 Suro, yang dilengkapi berbagai upacara. Keraton yang menjadi pedoman rakyat Jawa, pada malam 1 Suro menggelar acara Kirab Kyai Slamet. Kyai Slamet adalah kerbau bule peliharaan keraton yang amat dikeramatkan. Kerbau putih ini jumlahnya mencapai puluhan ekor, dan pada malam 1 Suro dikirab (dikelilingkan) kota Solo. Untuk membahas perayaan tahun baru Hijriayah dan Klenik, Yulmedia berhasil mewawancarai Maulana Sulaiman Tokoh Islam dari Pulau Bali, saat sebelum kebarangkatannya meninggalkan tanah air menuju Eropa dan Amerika. Inilah petikanya:

Boleh Shekh jelaskan sekilas tentang hijrah?

Rasulullah saw. bersabda: “Amal-amal itu hanya diterima dengan niat, dan setiap orang hanyalah akan diterima sesuai niatnya, siapa yang hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya akan memperoleh Allah dan Rasul-Nya, dan siapa saja yang hijrahnya untuk mencari dunia yang akan diperolehnya atau wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya akan memperoleh apa yang dia niatkan dalam berhijrah” (HR. Bukhari).
Substansi hijrah Rasulullah saw. dan kaum muslimin dari Mekkah menuju Madinah, menurut definisi para fuqaha (lihat A Majmu’ juz 19/24) adalah keluar dari darul kufur (negeri yang diterapkan system kufur) atau juga disebut darul harb (negeri yang secara militer dikuasai musuh) menuju darul Islam (negeri yang diterapkan system Islam) atau juga disebut daarus salam (negeri damai, yakni negeri yang secara militer dikuasai kaum muslimin).

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari peristiwa hijrahnya Nabi dahulu?

Mekkah pada waktu itu dikuasai oleh para pembesar Quraisy yang menolak kalimat tauhid Lailaahaillallah Muhammadur Rasulullah sebagai dasar bagi negara mereka. Para pembesar kota Madinah dalam baiat Aqabah justru siap menerima pemerintahan Rasulullah saw. yang dibangun di atas aqidah tauhid tersebut!. Dan mereka meminta Rasulullah saw. untuk hijrah ke kota Madinah agar secara riil memimpin dan memerintah mereka dengan menjalankan syariat Allah SWT.

Bagaimana memaknai hijrah dalam konteks kekinian?

Refleksi hijrah Rasulullah saw. dan kaum muslimin pada waktu itu bagi kita hari ini adalah perpindahan dari kegelapan menuju terang benderang, meninggalkan kemungkaran yang sudah dialami umat ini di negeri ini sejak zaman pemerintahan colonial Belanda selama 350 tahun hingga alam kemerdekaan selama 65 tahun ini, diganti dengan jalan yang menuju taat kepada Dia Maha Pemegang Segala Kerajaan.

Ada seruan berhijrah dari kehidupan sekuler menuju system Islam yang luas yang diridoi Allah SWT? Apa pendapat Shekh?

Kehidupan sekuler menjanjikan kehinaan kehidupan di dunia (QS. Al Baqarah 85). Juga penghidupan dunia yang penuh dengan kesengsaraan (QS. Thaha 124). Kehidupan umat sejak zaman kolonial hingga hari ini di bawah kungkungan system sekuler memang sangat menyedihkan. Dalam system pemerintahan, umat Islam yang seharusnya merupakan pemilik kekuasaan (shaahibus sulthan) berdasarkan prinsip kekuasaan di tangan umat (as sulthaan lil ummah) ternyata sebaliknya. Di masa penjajahan, kekuasaan itu dirampas dengan kekuatan senjata dan tipu muslihat sikolonial.

Menjelang peringatan Tahun Baru Hijriah 1400, dan tepat Abad ke-XV bersamaan dengan 1980, umat Islam di seluruh dunia meyakini akan datang era Kebangkitan, penilaian Shekh bagaimana?

Umat Islam memperingati Abad Kebangkitan Islam dengan semangat yang berlebihan. Bahkan menyongsong keyakinan ini dengan amat antusias, seolah-olah kebangkitan itu segera tiba, menguasai dunia dengan tatanan kehidupan Islam. Tapi ternyata peringatan Abad Kebangkitan Islam itu tinggal peringatan belaka. Kebangkitan dan Kejayaan Islam yang ditunggu-tunggu, dan diperingati setiap tahun itu ternyata menguap begitu saja.

Apa yang mesti kita lalukan?

Memasuki 1 Muharam 1431 Hijriah ini, saatnya kita melakukan introspeksi diri. Mengapa Kebangkitan Islam yang diyakini itu tidak kunjung datang. Sebaliknya berbagai bencana, malapetaka dan adzab justru menghampiri umat Islam. Sudah saatnya umat Islam menemukan sebab kehancuran dirinya. Dan penyakit akut yang diderita umat Islam tak lain kemusyrikan, klenik dan kebodohan yang terus-menerus ditekuni. Bukan saja rakyat dan umat saja yang menekuni kemusyrikan. para pemimpin pun justru berperilaku musyrik, dan ini yang amat memprihatinkan sekali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar